Kamis, 19 Maret 2009

Kaidah mengetahui hadis dloif

Maktabah Abu Salma al-Atsari
KAIDAH EMAS
DI DALAM MENGETAHUI RIWAYAT
HADITS SHAHIH DAN DHA’IF
Penulis :
Abu ’Umar Usamah bin Athaya
bin Utsman al-Utaibi
Alih Bahasa :
Abu Salma al-Atsari
Publication : 1428, Robi’ ats-Tsani 17 / 2007, Mei 5
KAIDAH EMAS
Di Dalam Mengetahui Riwayat Hadits Shahih dan Dha’if
Oleh : Abu Abu ’Umar Usamah bin ’Athaya al-Utaibi
Alih Bahasa : Abu Salma al-Atsari
Sumber : www.otiby.net (homepage resmi penulis)
© Copyright bagi ummat Islam.
Silakan menyebarkan risalah ini dalam bentuk apa saja selama menyebutkan
sumber, tidak merubah content dan makna serta tidak untuk tujuan komersial.
Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear. to/abusalma]
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-2 of 38-
Kaidah di dalam Menghukumi Suatu Hadits
الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله
وصحبه أجمعين ، أما بعد:
Segala puji hanyalah milik Alloh Pemelihara Alam
Semesta, Sholawat dan Salam semoga senantiasa
terlimpahkan atas Nabi kita Muhammad, kepada
keluarga dan seluruh sahabat beliau. Adapun
setelah itu :
Berikut ini merupakan kaidah-kaidah yang mesti
dilalui oleh seorang peneliti hadits atau pengkritik
(nuqad) ketika menghukumi suatu hadits akan
keshahihan atau kedha’ifannya.
Ketahuilah –semoga Alloh merohmatiku dan andabahwa
menghukumi suatu hadits, baik itu
keshahihan atau kedha’ifannya, melalui dua cara :
Cara Pertama : menghukumi sanad zhahirnya
saja tanpa menilai matannya.
Cara kedua : menghukumi sanadnya secara
bathin1, dimana di sini matannya juga dihukumi
(atau dengan kata lain, menghukumi hadits secara
keseluruhan).
1 Diantara yang dilontarkan oleh adz-Dzahabi dari hadits-hadits Mustadrak
karya al-Hakim : ”Sesungguhnya di dalam kebanyakan hadits-hadits di dalam
zhahirnya baik atas syarat salah satu atau kedua-duanya [Bukhari – Muslim,
pent.], dan di dalam bathin-nya memiliki suatu illat (penyakit) yang khof iyah
(samar/ tersembunyi) yang mu’atstsaroh (dapat mempengaruhi)” Siyaru
A’lamin Nubalaa’ (XVII/174)
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-3 of 38-
الخطوة الأولى: الحكم على السند ظاهرًا
Cara Pertama : Menghukumi Sanad
Secara Zhahir
Ada 5 hal di dalam menghukumi sanad secara
zhahir :
Pertama : Membedakan seorang perawi dengan
perawi lainnya.2
2 Buku-buku Tarojim (biografi perawi) sangatlah banyak dan bermacammacam
:
a. Diantaranya adalah biografi yang khusus membahas perawi tsiqoot
(kredibel/ terpercaya) seperti kitab ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, dan
ada pula yang khusus membahas perawi dhu’afaa` (plural dari
dha’if/ lemah) seper ti kitab adh-Dhu’afaa` ash-Shoghir karya Imam
Bukhari. Diantaranya pula ada yang mencakup dan menghimpun perawi
tsiqot dan selainnya seper ti at-Taarikh al-Kabir karya Imam al-Bukhari.
b. Diantaranya adalah biografi yang umum tidak khusus hanya untuk rijal
(perawi) suatu kitab atau kitab-kitab yang ter tentu, seperti at-Taarikh al-
Kabir karya Bukhari, Al-Jarh wat Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim, dan
adapula yang khusus membahas perawi suatu kitab ter tentu seper ti
Tahdzibul Kamal karya al-Mizzi.
c. Diantaranya adalah biografi yang khusus disusun menurut negeri
ter tentu seper ti kitab Taarikh Jurjaan karya al-Jurjaani, dan adapula yang
tidak dikhususkan seperti ini sebagaimana kitab-kitab lainnya yang
banyak.
d. Diantaranya adalah biografi yang disusun menurut tingkatan thobaqoot
seperti Thobaqootul Kubroo karya Ibnu Sa’d, ada pula yang disusun
berdasarkan nama-nama perawi sebagaimana mayoritas buku biografi,
sebagian lagi ada yang disusun berdasarkan al-Waf iyaat seper ti kitab al-
Wafiyaat karya ash-Shofadi.
e. Diantaranya adalah biografi yang disusun khusus untuk syuyukh (guruguru)
sebagian imam (disebut Ma’aajim asy-Syuyukh), ada yang disusun
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-4 of 38-
Untuk mengetahui seorang perawi ada beberapa
jalan, diantaranya :
a. Murid perawi tersebut yang menjelaskannya
yang tidaklah terancukan (karena keserupaan)
dengan perawi lainnya, seperti Abu Nu’aim al-
Fadhl bin Dukain yang berkata : Menceritakan
kepada kami Sufyan bin ’Uyainah,....
b. Dari jalan riwayat murid-murid seorang perawi
dan guru-gurunya di dalam sanad yang dapat
diketahui secara galibnya.3
c. Seorang perawi yang diketahui dengan
mulazamah (menekuni) gurunya, maka apabila
perawi itu memubhamkan (menyamarkan
sebagian identitas) gurunya, dapat diketahui
bahwa ia adalah guru perawi yang terbedakan
(dengan lainnya), dan apabila tidak maka ia
adalah orang lain.
Misalnya, Abu Nu’aim apabila meriwayatkan
dari Sufyan ats-Tsauri tidaklah menasabkannya
berdasarkan keterangan perawi yang tidak meriwayatkan darinya kecuali
hanya seorang perawi saja, seper ti kitab al-Munfar idaat dan al-Wihdaan,
ada pula yang disusun berdasarkan riwayat al-Akabir (perawi senior) dari
al-Ashoghir (perawi junior), As-Sabiq wal Lahiq, ada juga buku-buku al-
Ansaab (nasab-nasab perawi), buku-buku riwayat seorang anak dari
bapaknya (al-Abnaa` minal Aaba`) atau sebaliknya, dan perawi yang
meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya, ser ta buku-buku as-Su`alaat
dan al-’Ilal.
Penyebutan contoh-contohnya akan sangat panjang
3 Yang demikian ini dengan merujuk kepada buku-buku khusus yang
membahas tentangnya, seperti Tahdzibul Kamal karya al-Mizzi, Tahdzibut
Tahdzib karya al-Hafizh Ibnu Hajar, Taarikh ad-Dimasyqi karya Ibnu ’Asaakir,
Taarikh Baghdad karya al-Khathib, at-Taqyid karya Ibnu Nuqthoh dan Dzailut
Taqyid karya at-Taqi al-Faasi...
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-5 of 38-
(kepada ats-Tsauri,pent) namun apabila
meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah, beliau
menyebutkannya.4
Contoh berikutnya, Sulaiman bin Harb, apabila
meriwayatkan dari Hammad bin Zaid tidak
menasabkannya, namun apabila meriwayatkan
dari Hammad bin Salamah beliau
menasabkannya.5
d. Dari jalan thobaqot6 seorang perawi dan
thobaqot guru-guru dan murid-muridnya.7
e. Adanya seorang imam mu’tabar (terkenal)
yang menegaskan bahwa perawi ini adalah
4 Lihat pembahasan anggun yang ditulis oleh adz-Dzahabi di dalam
mengangkat keserupaan antara dua Sufyan dan dua Hammad, di Siyari
A’laamin Nubalaa` (VII/44-466)
5 Lihat Fathul Baari (XIII/285) kitab al-I’t isham, bab Ma Yakrohu min Katsrotis
Su`aal no. 7293
6 Diantara buku bermanfaat tentang pengenalan Thobaqot adalah : Thobaqot
Khalifah bin Khayath, Thobaqot Ibnu Sa’d, ats-Tsiqqot karya Ibnu Hibban, al-
Mu’ayyan fi Thobaqoot al-Muhadditsin karya adz-Dzahabi, Tadzkirotul
Huffazh karya adz-Dzahabi, Taqriibut Tahdziib karya al-Hafizh Ibnu Hajar,...
7 Misalnya : Tholq bin Mu’awiyah dari Sufyan ats-Tsauri... terdapat nama
seperti ini pada dua orang, yaitu : Tholq bin Mu’awiyah an-Nakho’i seorang
tabi’in senior Mukhodhrom*, dan Tholq bin Mu’awiyah bin Yazid dari thobaqoh
ke-7. Maka perawi dari Sufyan tidaklah mungkin seorang tabi’in mukhodrom,
maka perawi dari Sufyan bisa dipastikan adalah Ibnu Yazid. Lihat Taqribut
Tahdzib (hal. 22 - ar-Risalah)
Keterangan : * Mukhodhrom memiliki 3 makna :
a. Man Lam Yakhtatan (orang yang tidak berkhitan). Namun bukan ini yang
dimaksud.
b. Man Lam Yu’rof Abawaahu (orang yang tidak diketahui kedua orang
tuanya), penger tian ini juga kurang tepat.
c. Man Adrokal Jaahiliyah wal Islam (orang yang menemui zaman jahiliyah
dan Islam), dan makna ini yang dituju. Wallohu a’lam. Pent
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-6 of 38-
Fulan, dari segi tidak ada orang lain yang
serupa dengannya. Contohnya : apabila
didapatkan di dalam isnad Abu Dawud –
misalnya- ada perawi yang mirip dengan
selainnya, imam ini8 akan menunjukkan bahwa
perawi yang mirip dengannya tidaklah
dikeluarkan oleh Abu Dawud.
f. Merujuk kepada kitab-kitab al-Muttafaq wal
Muftariq9, kitab-kitab al-Mu’talaf wal
Mukhtalaf10 dan kitab-kitab al-Musytabih11.
g. Apabila perawi itu adalah seorang sahabat atau
diduga sebagai seorang sahabat, maka
merujuk kepada kitab-kitab Shahabah12 dan
kitab-kitab al-Maroosil13
8 Diantara buku bermanfaat mengenai hal ini adalah Tahdzibul Kamal dan
Furu’-nya serta Ta’jiilul Manfa’ah karya al-Hafizh Ibnu Hajar
9 Seper ti : al-Muttafaq wal Muftar iq karya al-Khathib al-Baghdadi, dan
Muwadhdhoh Awhaam al-Jam’i wat Tafriiq karya al-Khathib juga,...
10 Seperti : al-Mu’talaf wal Mukhtalaf karya ’Abdul Ghoni bin Sa’id al-Azdi, al-
Mu’talaf wal Mukhtalaf karya ad-Daaruquthni, al-Mu’talaf wal Mukhtalaf karya
Ibnu Thohir al-Qoisarooni, dan yang paling lengkap dan luas adalah kitab al-
Ikmaal karya al-Amiir Ibnu Makuulaa.
11 Seperti : Talkhishul Mutasyaabih karya al-Khathib, Taaliy Talkhish al-
Mutasyaabih karya beliau juga, Musytabihun Nisbah karya al-Hafizh ’Abdul
Ghoni al-Azdi, Kitab al-Musytabih karya al-Hafizh adz-Dzahabi, kitab
Tabshiirul Mutanabbi bi Tahriiril Musytabih karya al-Hafizh Ibnu Hajar dan
kitab Taudhihul Musytabih karya Ibnu Nashiruddin
12 Buku yang terkenal diantaranya adalah Ma’rifatu ash-Shohabah karya Ibu
Nu’aim, Mu’jam ash-Shohabah karya Ibnu Qoni’, al-Istii’aab karya Ibnu ’Abdil
Barr, Usudul Ghoobah karya Ibnu Katsir dan al-Ishobah karya Ibnu Hajar.
13 Seperti kitab al-Maroosiil karya Abu Dawud, al-Maroosiil karya Ibnu Abi
Hatim dan Tuhfatut Tahshil karya al-Allaa`i.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-7 of 38-
h. Apabila perawi tersebut berkunyah maka
merujuk kepada kitab-kitab al-Kuna14 dan
apabila berlaqob maka merujuk kepada kitabkitab
al-Alqoob.15
i. Apabila tidak memungkinkan untuk
membedakan seorang perawi dengan
selainnya, maka apabila para perawi ini –atau
dua perawi yang serupa- adalah perawi tsiqoot
maka sanadnya shahih dengan
mempertimbangkan syarat-syarat lainnya di
dalam penshahihan hadits dan apabila perawi
ini dho’if maka sanadnya juga dha’if. Namun
apabila sebagian perawi ini dha’if (dan
sebagiannya tsiqot, pent) maka bertawaqquf
(mendiamkan)16 di dalam penshahihan sanad
sampai diteliti apakah riwayat ini memiliki
mutabi’ (penyerta) atau Syaahid? Akan datang
perinciannya di dalam Cara Kedua –insya
Allohu Ta’ala-.
Kedua : Mengetahui keadilan (’adalah) seorang
perawi : yang demikian ini bisa dengan
14 Misalnya : kitab al-Kunaa karya Imam al-Bukhari, al-Kunaa karya Imam
Muslim, al-Kunaa wal Asmaa` karya ad-Daulaabi, kitab al-Kunaa karya Abu
Ahmad al-Haakim dan al-Muntaqo f i Sardil Kunaa karya adz-Dzahabi.
15 Seper ti : kitab Fathul Baab fil Kunaa wal Alqoob karya Ibnu Mandah, kitab
Nuzhatul Albaab fil Alqoob karya al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mizzi telah
mengkhususkannya di dalam kitabnya Tahdzibul Kamal sebuah pasal di akhir
bukunya tentang alqoob, demikian pula dengan al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam
Tahdzib dan Taqrib-nya
16 at-Tawaqquf itu bermakna : tidak menerima sanad, yaitu menghukumi
kedhaifannya.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-8 of 38-
kemasyhuran perawi atas sifat ’adalah-nya atau
bisa juga dengan penegasan seorang imam
”mu’tabar” atas sifat ’adalah-nya, dan yang
demikian ini dengan syarat seorang perawi tidak
memiliki sesuatupun yang dapat menghilangkan
sifat ’adalah-nya.
Apabila seorang perawi tidak masyhur akan
keadilannya dan tidak satupun dari ulama
mu’tabar mentsiqohkannya, maka ada beberapa
keadaan :
a. Sejumlah perawi tsiqot meriwayatkan darinya
dan tidak ada riwayat yang datang darinya
diingkari maka ia tsiqoh, dan hal ini semakin
diperkuat apabila ia termasuk thobaqot tabi’in
senior atau pertengahan.
b. Riwayat al-Bukhari dan Muslim pada seorang
perawi (otomatis) adalah ta’dil atasnya.
c. Terangkatnya status majhul ’ain-nya dengan
riwayat seorang tsiqoh atau dua orang perawi
darinya.17
d. Apabila seorang majhul meriwayatkan hadits
yang maudhu’ (palsu) atau munkar dan
tidaklah ditemukan di dalam sanadnya adanya
penyerta yang mengkonfrontasikannya, maka
perawi ini dituduh al-Majhul biuhdatihi (tidak
diketahui status kelemahannya). [Lihat
Miizanul I’tidaal (II/103), (III/91) dan (IV/21).
e. Apabila seorang imam –diketahui bahwa imam
ini tidaklah meriwayatkan melainkah hanya
17 Demikian pula terangkat majhul ’ain-nya dengan pentsiqohan seorang
ulama mu’tabar atau ta’dil dar i imam mu’tabar.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-9 of 38-
dari tsiqoh- meriwayatkan dari seorang perawi,
maka ini merupakan tautsiq (pentsiqohan)-nya
terhadap perawi itu dan penghukuman akan
ke-’adalah-annya menurut imam tersebut.
f. Penshahihan seorang imam mu’tabar terhadap
suatu sanad hadits dihitung sebagai
pentsiqohan terhadap seluruh perawinya.
Ketiga : Mengetahui ke-dhabit-an seorang perawi.
Untuk mengetahui sifat dhabit seorang perawi ada
dua cara, yaitu :
 Cara Pertama : Adanya tautsiq para imam
terhadap seorang perawi.
 Cara kedua : Menelusuri riwayatnya dan
menelitinya, lalu membandingkannya dengan
riwayat para tsiqot huffazh. Apabila yang dominan
adalah istiqomah (kesesuaian) dan muwafaqoh
(keselarasan) maka perawi tersebut adalah tsiqoh
dan apabila yang dominan adalah mukholafah
(penyelisihan) dan munkaraat maka perawi
tersebut adalah dha’if dan matruk (ditinggalkan).
Namun apabila didapatkan bahwa riwayatnya ada
yang mukholafah namun yang dominan adalah
keselarasannya, maka ia adalah perawi yang
shoduq dan husnul hadits (haditsnya hasan).18
Di sini ada 9 hal di dalam menghukumi seorang
perawi, yaitu :
1. Mengumpulkan pendapat-pendapat ulama yang
membicarakan perawi tersebut.
18 Lihat : at-Tankil karya al-‘Allamah al-Mu’allimi (I/66-67), Siyaru A’laamin
Nubalaa` (IX/429,95), Mizanul I ’tidal (I/521,405), (II/415-41) dan (IV/188,103).
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-10 of 38-
2. Menguatkan (Ta’akkud) keshahihan
penisbatannya kepada mereka.19
3. Mengetahui imam hadits yang dipandang
pendapatnya (mu’tamad) dan yang tidak
dipandang.20
4. Mengetahui imam yang berbicara tentang
seorang perawi, apakah ia seorang murid
perawi, ataukah sesama penduduk negeri yang
sama, atau seorang yang hidup semasanya
(sahabat) ataukah orang yang belakangan
darinya.
5. Mengetahui derajat imam (yang membicarakan
perawi), apakah termasuk mu’tadil
(pertengahan di dalam menilai perawi),
mutasaahil (terlalu lunak di dalam menilai
perawi) atau mutasyaddid (terlalu ketat di
dalam menilai perawi).
6. Mengetahui sebab-sebab Jarh dan Ta’dil
apabila ada.
7. Perincian jarh atau naqdh-nya (bantahan yang
menggugurkan penilaian) seorang mu’addil
(ulama yang menta’dil).
8. Mengetahui maksud-maksud para imam dari
lafazh-lafazh, ungkapan-ungkapan dan
19 Menguatkan keshahihan nisbat Jarh dan Ta’dil oleh seorang imam yang
berbicara tentangya baik secara sanad maupun matannya. Adapun secara
matan, jatuhnya kesalahan di dalam menukil dari para imam, atau menukil
secara makna yang diperhitungkan sebagai kekacauan makna, inilah yang
dimaksudkan oleh imam yang membicarakannya.
20 Lihat kitab : ”Dzikru man Yu’tamadu qouluhu f il Jarhi wat Ta’dil karya al-
Hafizh adz-Dzahabi dan risalah al-Hafizh as-Sakohwi yang berjudul al-
Mutakallamuna f ir Rijaal.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-11 of 38-
harokaat mereka yang berkaitan dengan jarh
wa ta’dil.21
9. Menjama’ (mengkompromikan) dan mentarjih
(menguatkan salah satunya) apabila pendapat
para imam saling kontradiksi di dalam menilai
seorang perawi (Kesimpulan pendapat
terhadap perawi).
Keempat : Mengetahui hubungan seorang perawi
dengan syaikhnya, hal ini memiliki beberapa
gambaran :
a. Apabila syaikhnya termasuk perawi yang
mukhtalith (tercampur-baur hafalannya) atau
taghoyar (berubah) dengan perubahan yang
mempengaruhi riwayatnya, maka dilihat
apakah perawi tersebut mendengar darinya
sebelum ikhtilath atau taghoyar-nya ataukah
setelahnya?
Apabila perawi ini mendengar darinya sebelum
ikhtilath atau taghoyar-nya, dan syaikh ini
asalnya maqbul (diterima) riwayatnya maka
diterima riwayatnya.
Apabila perawi ini mendengar darinya setelah
ikhtilath atau taghoyar-nya maka ditolak
riwayatkan dan dihukumi sanadnya dha’if.
21 Lihatlah di dalam masalah ini pasal-pasal yang berkaitan dengannya pada
buku-buku mushtholah seper ti Fathul Mughits karya as-Sakhowi, Syarh
Alfaazhu Jarh an-Naadiroh dan Syarh Alfaazhut Ta’diil an-Naadiroh karya
DR. Sa’di al-Hasyimi ser ta Dhowabith al-Jarh wat Ta’dil karya Syaikh ’Abdul
’Aziz al-’Abdul Lathif
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-12 of 38-
Apabila tidak diketahui apakah mendengarnya
perawi dari syaikhnya ini sebelum ikhtilath
ataukah setelahnya, atau mendengar darinya
sebelum ikhtilath dan setelahnya dan tidaklah
dapat dibedakan sima’ (mendengar)-nya dari
syaikhnya, maka ditolak riwayatnya dan
dihukumi sanadnya dha’if.22
Contohnya : ’Atho` bin as-Saa`ib perawi yang
tsiqoh namun mukhtalith, meriwayatkan
darinya Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri dan
Hammad bin Zaid sebelum ikhtilath-nya, dan
meriwayatkan darinya Jarir, Khalid bin ‘Abdillah
dan Ibnu ‘Aliyah setelah ikhtilath-nya, serta
meriwayatkan darinya Hammad bin Salamah
sebelum dan setelah ikhtilath-nya.
b. Mengetahui perihal perawi beserta syaikhnya,
apakah dia dha’if di dalam (periwayatan)
gurunya ataukah tidak? Apabila ia dha’if maka
sanadnya otomatis dha’if, seperti riwayat
Sufyan bin Husain al-Wasithi dari az-Zuhri.23
c. Mengetahui perihal perawi terhadap suatu
penduduk negeri, apakah dia dha’if di dalam
(periwayatan) mereka ataukah tidak?
Apabila ia dha’if di dalam periwayatan mereka
sedangkan dia meriwayatkan dari mereka
22 Lihat macam semisal ini : al-Ightibath bi Ma’rifati man Ruwiya bil Ikht ilath
karya Sabth Ibnu al- ’Ajami, al-Kawaakibu an-Niiroot f i Ma’rifat i man Ikhtalatho
minar Ruwaat karya Ibnu al-Kiyaal dan Syarh al-’Ilal kara Ibnu Rojab (II/555-
598 : DR. ’I tr).
23 Lihat macam semisal ini : ats-Tsiqoot alladziina Dho’afuu fii Ba’dhi
Syaikhihim karya guru kami, DR. Shalih ar-Rifa’i dan Syarh ‘I lalit Turmudzi
karya Ibnu Rojab (II/621-672).
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-13 of 38-
maka sanadnya dha’if, sebagaimana riwayat
Isma’il bin ‘Iyasy dari penduduk Hijaz, maka
riwayatnya dha’if.24
d. Mengetahui periwayatan perawi terhadap suatu
penduduk negeri apabila mereka mengambil
periwayatan darinya, apakah mereka
(penduduk negeri) adalah dhu’afa` di dalam
(periwayatan) darinya ataukah tidak?25
Apabila mereka (penduduk suatu negeri) lemah
di dalam (periwayatan) darinya sedangkan
mereka meriwayatkan darinya maka sanadnya
dha’if, sebagaimana riwayat penduduk Syam
dari Zuhair bin Muhammad al-Khurosani, maka
riwayatnya dha’if.
Kelima : Mengetahui ittishol (bersambungnya)
sanad dari inqitho’ (keterputusan)-nya, dalam hal
ini ada 7 keadaan :
1. Apabila rijaal (para perawi) sanad adalah
tsiqoot dan mereka menegaskan secara tegas
akan sima’ (mendengar)-nya, atau dengan
yang dihukumi dengannya maka sanadnya
muttashil (bersambung).26
2. Apabila sanadnya dengan ‘an’anah atau
semisalnya, maka diperiksa apakah perawi itu
24 Isma’il bin ‘Iyasy dha’if di dalam periwayatan selain dari penduduk
negerinya, seper ti riwayat penduduk Hijaz, Mesir maupun Iraq.
25 Lihat macam semisal ini : Syarh al-‘I lal karya Ibnu Rojab (II/614-612).
26 Inilah yang asal selama tidak jelas ada khilafnya, dan yang demikian ini
dengan meneliti jalan-jalan hadits sebagaimana akan datang penjelasannya –
insya Alloh- dalam cara kedua.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-14 of 38-
sezaman dengan syaikhnya ataukah tidak,
apabila tidak sezaman dengan syaikhnya
maka sanadnya munqothi’ (terputus).
3. Apabila seorang perawi sezaman dengan
syaikhnya maka diperiksa, apakah ia bertemu
dengannya ataukah tidak diketahui pernah
bertemu? Apabila ia tidak bertemu syaikhnya
maka sanadnya munqothi’.
Dan apabila tidak diketahui bertemunya, maka
hukum asal dua perawi yang sezaman adalah
bertemu dan mendengar selama tidak
didapatkan adanya indikasi yang menunjukkan
ketiadaan sima’ seperti ditegaskan oleh imam
mu’tabar, atau tidak adanya kemungkinan
bertemu dikarenakan usia belia seorang
perawi yang tidak memungkinkannya
menerima periwayatan, atau perbedaan negeri
yang jauh dan tidak adanya rihlah (bepergian
untuk mencari hadits).
4. Apabila seorang perawi bertemu dengan
syaikhnya, maka diperiksa apakah ia
mendengar darinya ataukah tidak mendengar
ataukah tidak diketahui akan sima’
(mendengarnya)? Apabila perawi itu belum
pernah mendengar dari gurunya maka
sanadnya munqothi’.
Apabila tidak diketahui maka hukum asalnya
adalah bertemu dan mendengar selama tidak
didapatkan adanya indikasi yang menunjukkan
ketiadaan mendengar.
5. Apabila seorang perawi mendengar dari
gurunya, maka diperiksa apakah perawi itu
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-15 of 38-
termasuk mudallis ataukah tidak? Apabila
bukan seorang mudallis maka sanadnya
muttashil.
6. Apabila perawi itu adalah mudallis dan
meriwayatkan dengan ‘an’anah atau
semisalnya dari syaikh yang ia mendengar
darinya atau yang dihukumi perawi itu
mendengar darinya, (diperiksa) :
Apabila perawi itu jarang melakukan tadlis
seperti Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi
atau tidak banyak (sedikit) melakukan tadlis
seperti Qotadah, A’masy dan Abu Ishaq al-
Subai’i maka dihukumi sanadnya muttashil
selama tidak jelas adanya khilaf (pendapat
yang menyelisihi)-nya.
Apabila perawi itu termasuk yang sering
melakukan tadlis seperti Ibnu Juraij terhadap
periwayatan selain ‘Atho`, atau seperti
Baqiyah bin Walid, maka bertawaqquf
(mendiamkan) atas status ittishal-nya sanad
dan dihukumi dengan dha’if sampai menjadi
jelas keadaan sanad dengan adanya jalanjalan
riwayat lainnya.
7. Apabila perawi sezaman dengan syaikhnya
dan memungkinkan bertemu dan mendengar
darinya namun tidak diketahui ia mendengar
darinya, namun ia mayshur (terkenal) dengan
melakukan irsal maka sanadnya dihukumi
dengan munqothi’. Namun apabila ia tidak
masyhur melakukan irsal maka sanadnya
muttashil lagi shahih selama tidak datang
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-16 of 38-
indikasi yang menjelaskan ketiadaan
mendengarnya.
Hasil (Kesimpulan) Cara Pertama :
Apabila suatu sanad selamat dari keseluruhan ‘ilal
(cacat/penyakit) yang zhahir (tampak), telah
tsabat (tetap) akan sifat ’adalah dan dhabit para
perawinya, dan telah shahih akan sima’
(mendengar)-nya perawi antara satu dengan
lainnya, maka sanadnya shahih secara zhahir.
Apabila didapatkan sebuah ’illah (cacat) dari
cacat-cacat zhahir (di atas) maka sanadnya
ditolak tidak diterima.
Apabila kedha’ifan di dalam sanad lebih dekat dan
memiliki kemungkinan (shahih) maka akan
menjadi sholih (baik) dengan mutaba’at
(penyerta) dan syawahid.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-17 of 38-
الخطوة الثانية: : الحكم على السند باطنًا
Cara Kedua : Menghukumi Sanad secara
bathin
Pertama : Cara pertama diaplikasikan terhadap
sanad hadits yang dikehendaki penghukuman
atasnya secara cermat.
Kedua : Dihimpun jalan-jalan hadits yang satu
dari Mazhoonni (sumber perkiraan)-nya.
1. Dari sahabat itu sendiri, akan diketahui al-
Mutaba’ah dan al-Mukholafah, diketahui yang
syadz dan illat.
2. Dari sahabat yang meriwayatkan hadits itu
sendiri –apabila ada pada mereka atau salah
seorangnya- maka termasuk syawahid, dan
dapat dihubungkan dengannya hadits-hadits
mursal, mu’dhol, mauquf dan maqthu’ yang
dihukumi marfu’ atasnya.
Untuk hadits yang dapat menjadi shalih
karena syawahid memiliki syarat, yang
penting diantaranya adalah : hendaknya
hadits itu tidak terlalu dha’if (syadid), tidak
syadz dan tidak munkar.
Dan diterapkan cara pertama untuk setiap
sanad mutaba’aat dan syawaahid serta
mukholafaat.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-18 of 38-
Peringatan : Takhrij itu memiliki jalan-jalan
yang diketahui perinciannya dari sumber
perkiraannya.27
Ketiga : Menghimpun pendapat-pendapat para
imam ahli hadits dan illat hadits28 seperti Imam
Ahmad, Ibnul Madini, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu
Zur’ah, Abu Dawud, al-Bukhari, at-Turmudzi, an-
Nasa`i, ad-Daaruquthni, al-Khothib al-Baghdadi,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu
Rojab, al-Hafizh al-Iroqi, Ibnu Hajar, Ibnu
Mulaqqin, Ahmad Syakir, al-Albani, dan selain
mereka terhadap thuruq (metode-metode) yang
dihimpun hingga menjadi mudah bagi anda untuk
memahami metode para imam ahli hadits di dalam
naqd (mengkritik hadits) dan kaifiyat (cara) di
dalam menghukumi sanad-sanad hadits, dan
hingga anda dapat memetik faidah dari pendapatpendapat
mereka mengenai masalah yang sulit
atas anda, dan juga supaya anda dapat
mengetahui kapasitas kelemahan diri anda di
hadapan para imam yang ahli lagi mendalam
ilmunya.
27 Diantara sumbernya adalah : Kitabut Takhriij karya DR. Bakr ’Abdush
Shomad ’Aabid, at-Takhirj wa Diroosatul Asaaniid karya Mahmud ath-
Thohhan dan Kitabu at-Ta`shil karya DR. Bakr Abu Zaid.
28 Diantara buku tersebut adalah : Kitab al-’Ilal karya Ibnul Madini, al-’Ilal wa
Ma’rifatur Rijaal karya Imam Ahmad, al-’I lal karya Ibnu Abi Hatim dan al-’I lal
karya ad-Daaruquthni. Sebagai tambahan juga buku-buku ar-Rijaal (perawi
hadits) saja yang mencakup naqd (kritik) para imam terhadap riwayat-riwayat
yang jumlahnya banyak sekali.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-19 of 38-
Keempat : Ini merupakan cara kedua yang global
dan memerlukan tafshil (perincian) dan tahrir
(penegasan istilah), mudah-mudahan masalah ini
dapat dibahas dalam waktu dekat –insya Alloh
Ta’ala-.
Kelima : Ketahuilah, bahwa menghukumi suatu
hadits adalah perkara yang paling sulit dan rumit,
tidak ada yang mampu melakukannya kecuali
hanya ulama ahli hadits senior. Maka berhatihatilah
di dalam penghukuman hadits dan
janganlah tergesa-gesa. Jadikanlah apa yang saya
tulis ini adalah suatu pelatihan dan pembelajaran
saja bagi anda sampai anda menjadi mantap di
dalam ilmu hadits.
Perbanyaklah membaca buku-buku mushtholahul
hadits, ilalul hadits, biografi para perawi dan
biografi para imam, semoga Alloh memberikan
taufiq-Nya atasku dan atas anda kepada apa yang
Ia cintai dan Ridhai.
والله أعلم وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Hanya Allohlah yang lebih tahu. Semoga Sholawat
dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi
kita Muhammad, kepada keluarga dan sahabat
beliau semuanya.
Ditulis oleh :
Abu Zaid dan Abu ’Umar Usamah bin ’Athaya al-
’Utaibi.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-20 of 38-
الَق  واعِ  د الذَّ  هبِي ُ ة
لِ  معرَِفةِ ال  صحِيحِ وال  ضعِيفِ
مِ  ن ال  مروِياتِ ال  حدِيثِيةِ
تأليف
أبي عمر أسامة بن عطايا بن عثمان العتيبي
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-21 of 38-
َق  واعِد فِي َ كيفِيةِ ال  ح ْ كمِ  عَلى ال  حدِيثِ
الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله
وصحبه أجمعين ، أما بعد:
فهذه جملة من القواعد التي يتبعها الباحث أو الناقد عند الحكم على
الحديث بالصحة أو الضعف. اعلم رحمني الله وإياك ؛ أن الحكم على
حديث "ما" بالصحة أو الضعف تتبع فيه خطوتان:
الخطوة الأولى: الحكم على السند ظاهرًا دون الحكم على المتن .
الخطوة الثاني ة: الحكم على السند باطن ًا( 29 ) ، وهنا يكون الحكم
على المتن أيضًا [الحكم على الحديث جملة].
) 29 ) مما قاله الذهبي عن أحاديث المستدرك للحاكم: [فإن في كثير من ذلك
أحاديث في الظاهر على شرط أحدهما أو كليهما وفي الباطن لها علل خفية
. (175/ مؤثرة] سير أعلام النبلاء( 17
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-22 of 38-
الخطوة الأولى: الحكم على السند ظاهرًا .
يتبع في ذلك خمسة أمور :
:( -1 تمييز الراوي عن غيره( 30
) 30 ) كتب التراجم كثيرة ومتنوعة:
أ-فمنها ما هو مختص بالثقات ككتاب الثقات لابن حبان ، ومنها ما هو
مختص بالضعفاء ككتاب الضعفاء الصغير للإمام البخاري ، ومنها ما هو جامع
شامل للثقات وغيرهم كالتاريخ الكبير للإمام البخاري.
ب-ومنها ما هو عام لا يختص برجال كتاب أو كتب مخصوصة كالتاريخ
الكبير للبخاري، والجرح والتعديل لابن أبي حاتم، ومنها ما هو متخصص
بكتب معينة كتهذيب الكمال للمزي .
ت- ومنها ما هو خاص ببلد معين ككتاب تاريخ جرجان للجرجاني ، ومنها
ملا يختص كأكثرها .
ث- ومنها ما هو مرتب على الطبقات كالطبقات الكبرى لابن سعد ، ومنها
ما هو مرتب على الأسماء كأغلبها ، ومنها ما هو مرتب على الوفيات ككتاب
الوافي بالوفيات للصفدي.
ج- ومنها ما هو مختص بشيوخ بعض الأئمة (معاجم الشيوخ) ، ومنها ما هو
مختص ببيان من لم يرو عنه إلا راو واحد وهي كتب المنفردات والوحدان ،
ومنها ما هو مختص برواية الأكابر عن الأصاغر ، والسابق واللاحق ، ومنها
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-23 of 38-
ولمعرفة الراوي طرق منها:
أ) أن يبينه تلميذه بحيث لا يشتبه مع غيره ،كأن يقول أبو نعيم
الفضل بن دكين : حدثنا سفيان بن عيينة،..
ب) عن طريق تلامذة الراوي وشيوخه في السند يتعرف عليه
.( غالبًا ( 31
ت) أن يعرف الراوي بملازمته لشيخه ؛ فإذا أمه  عرف أنه
شيخه المميز ، وإلا فآخر.
مثل أبي نعيم إذا روى عن سفيان الثوري لم ينسبه ، أما إذا روى
.( عن سفيان بن عيينة فينص عليه( 32
كتب الأنساب ، وكتب رواية الأبناء عن الآباء ، وعكسه ، ومن روى عن
أبيه عن جده ، وكتب السؤالات والعلل..
وذِ ْ كر أمثلتها يطول.
) 31 ) وذلك بالرجوع إلى الكتب المتخصصة في ذلك مثل: ذيب الكمال
للمزي، ذيب التهذيب للحافظ ابن حجر، تاريخ دمشق لابن عساكر،
تاريخ بغداد للخطيب ، التقييد لابن نقطة ، وذيل التقييد للتقي الفاسي...
) 32 ) انظر البحث النفيس الذي كتبه الذهبي في رفع الاشتراك بين السفيانين
.(466-464/ والحمادين. سير أعلام النبلاء( 7
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-24 of 38-
ومثل سليمان بن حرب إذا روى عن حماد بن زيد لم ينسبه ، أما
.( إذا روى عن حماد بن سلمة نسبه( 33
.( ث) عن طريق طبقة( 34 ) الراوي وطبقة شيوخه وتلامذته( 35
ج) أن ينص إمام معتبر على أن الراوي هو فلان بحيث لا يشتبه
مع غيره.
ومثله إذا وجد في إسناد لأبي داود –مث ً لا- فيشتبه مع غيره فينص
إمام( 36 ) على أن المشتبه معه لم يخرج له أبو داود .
) 33 285 ) كتاب الاعتصام . باب ما يكره من كثرة / ) انظر : فتح الباري( 13
. السؤال رقم/ 7293
) 34 ) ومن الكتب المفيدة في معرفة الطبقات: طبقات خليفة بن خياط ، طبقات
ابن سعد ، الثقات لابن حبان ، المعين في طبقات المحدثين للذهبي ، تذكرة
الحفاظ للذهبي ، تقريب التهذيب للحافظ ابن حجر ، ..
) 35 ) مثاله: طلق بن معاوية عن سفيان الثوري .. فيوجد ذا الاسم شخصان:
طلق بن معاوية النخعي تابعي كبير مخضرم ، وطلق بن معاوية بن يزيد من
الطبقة السابعة.
فالراوي عن سفيان لا يمكن أن يكون تابعيًا مخضرمًا فيكون الراوي عن سفيان
هو ابن يزيد . انظر: تقريب التهذيب(ص/ 226 -الرسالة) .
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-25 of 38-
 ح) يرجع إلى كتب المتفق والمفتر ق( 37 ) ، وكتب المؤتلف
.( والمختلف( 38 ) ، وكتب المشتبه( 39
خ) إذا كان الراوي صحابيًا أو يظن أنه صحابي يرجع إلى كتب
. ( الصحابة( 40 ) ، وإلى كتب المراسيل ( 41
) 36 ) ومن الكتب المفيدة في ذلك : ذيب الكمال وفروعه ، وتعجيل المنفعة
للحافظ ابن حجر.
) 37 ) مثل كتاب: "المتفق والمفترق" للخطيب البغدادي ، "موضح أوهام الجمع
والتفريق" للخطيب أيضًا..
) 38 ) مثل كتاب: "المؤتلف والمختلف" لعبد الغني بن سعيد الأزدي ، و"المؤتلق
والمختلف" للدارقطني ، و"المؤتلف والمختلف" لابن طاهر القيسراني ، ومن
أجمعها وأبدعها كتاب "الإكمال" للأمير ابن ماكولا.
) 39 ) مثل: "تلخيص المتشابه" للخطيب ، "تالي تلخيص المتشابه" له ، ، "مشتبه
النسبة" للحافظ عبد الغني الأزدي ، كتاب "المشتبه" للحافظ الذهبي ،
وكتاب "تبصير المنتبه بتحرير المشتبه" للحافظ ابن حجر ، وكتاب "توضيح
المشتبه" لابن ناصر الدين.
) 40 ) من أشهرها : "معرفة الصحابة" لأبي نعيم ، "معجم الصحابة" لابن قانع ،
"الاستيعاب" لابن عبد البر ، "أسد الغابة" لابن الأثير ، "الإصابة" للحافظ
ابن حجر.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-26 of 38-
د) إذا كان الراوي بالكنية فيرجع إلى كتب الك نى( 42 ) ، وإذا كان
.( باللقب يرجع إلى كتب الألقاب( 43
ذ) إذا لم يمكن تمييز الراوي عن غيره ؛ فإذا كانوا –أو كان ا-
ثقات فالسند صح يح مع اعتبار الشروط الأخرى للتصحيح ، وإذا
كانوا –أو كان ا- ضعفاء فالسند ضعيف ، وإن كان بعضهم ضعيفًا
فيتوقف في تصحيح السند ( 44 )حتى ينظر هل له متابع أو شاهد ؟
وسيأتي تفصيله في الخطوة الثانية -إن شاء الله تعالى- .
) 41 )ككتاب "المراسيل" لأبي داود ، "المراسيل" لابن أبي حاتم ، "تحفة
التحصيل" للعلائي.
) 42 ) مثل: كتاب "الكنى" للإمام البخاري ، و"الكنى" للإمام مسلم ، و"الكنى
والأسماء" للدولابي ، كتاب "الكنى" لأبي أحمد الحاكم ، "المقتنى في سرد
الكنى" للذهبي.
) 43 ) مثل كتاب"فتح الباب في الكنى والألقاب" لابن منده ، وكتاب"نزهة
الألباب في الألقاب" للحافظ ابن حجر وقد خصص المزي في كتابه
"ذيب الكمال" فص ً لا في آخره عن الألقاب وكذلك الحافظ ابن حجر في
ذيبه وتقريبه.
) 44 ) والتوقف بمعنى : عدم قبول السند ؛ أي : الحكم بضعفه.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-27 of 38-
-2 معرفة عدالة الراوي : وذلك إما باشتهاره بال عدالة ، وإما
بنص إمام (معتبر) على عدالته ، وذلك بشرط خلو الراوي مما يخل
بعدالته .
إذا لم يشتهر الراوي بعدالة ولم يوثق من معتبر فله حالات:
أ) أن يروي عنه جمع من الثقات ولم يأت بما ينكر عليه فهو ثقة ،
ويتأكد ذلك إذا كان من طبقة كبار التابعين وأواسطهم.
ب) رواية البخاري ومسلم للراوي تعديل له .
.( ت) ترتفع جهالة العين برواية ثقة أو راويين عنه( 45
ث) إذا روى اهول حديثًا موضوعًا أو منكرًا ولا يوجد في
.( سنده من تحمل عليه التبعة فيتهم هذا الراوي اهول بعهدته( 46
ج) إذا روى إمام –عرف أنه لا يروي إلا عن ثق ة- عن راو ف هو
توثيق للراوي وحكم بعدالته عند ذلك الإمام .
 ح) تصحيح إمام معتبر لإسناد حديث يعد توثيقًا لجميع رواته .
) 45 )وكذلك ترتفع جهالة عينه بتوثيق معتبر أو بتعديل إمام (معتبر) .
) 46 . (216/4) ، (91/3) ، (103/ ) انظر ميزان الاعتدال( 2
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-28 of 38-
-3 معرفة ضبط الراوي :
ولمعرفة ضبط الراوي طريقتان:
الطريقة الأولى: توثيق الأئمة للراوي .
الطريقة الثا ني: بسبر مروياته وتتبعها ، وعرضها على رواية
الثقات الحفاظ ؛ فإن كان الغالب عليه الاستقامة والموافقة فهو الثقة ،
وإن كان الغالب عليه المخالفة والمنكرات فهو ا لضعيف أو المتروك ،
وإن كانت وجدت عنده المخالفة مع أن الغالب عليه الاستقامة فهو
.( الصدوق وحسن الحديث( 47
وهنا تسعة أمور للحكم على الراوي:
أو ً لا: جمع أقوال من تكلم في الراوي.
.( ثانيًا: التأكد من صحة نسبتها إليهم( 48
) 47 67 ) ، سير أعلام -66/ ) انظر : التنكيل للعلامة المعلمي( 1
-415/2) ، (405،521/ 95،429 ) ، ميزان الاعتدال( 1 / النبلاء( 9
(103 ،188/4) ، (416
) 48 )التأكد من صحة نسبة الجرح والتعديل للإمام المتكلم بذلك سندًا ومتنًا ؛
أما سندًا فظاهر ، وأما متنًا فلوقوع أخطاء في النقل عن الأئمة أو النقل
بالمعنى المؤدي لاختلال المعنى الذي أراده المتكلم.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari

-4 معرفُة علاقةِ الراوي م  ع شيخِهِ وَل  ها  صور:
[أ]- إذا كان الشي  خ ممن اختل َ ط ، أو تغي ر تغيرًا م  ؤثِّرًا على روايتِهِ
؛ فينظ ر هل سم  ع منه الراوي قب َ ل اختلاطِهِ أو تغيرِهِ أ  م بع  د ذلك ؟
فإ ْ ن كان سما  عه منه قب َ ل الاختلاطِ أو التغيرِ ، والش ي  خ في أصلِهِ
مقبو َ ل الروايةِ ُقبَِل  ت روايته .
وإ ْ ن كا َ ن سما  عه منه بع  د الا  ختِلاطِ أو التغيرِ ؛  ر د  ت روايته ،
و  حكِ  م على ال  سندِ بال  ض عفِ .
وإن كان لا يعرف هل سمع منه قبل الاختلاط أو بعده ، أو سمع
منه قبل الاختلاط وبعده ولم يتميز سماع ه منه ؛ ردت روايته وحكم
.( على السند بالضعف ( 51
مثاله: عطاء بن السائب ثقة اختلط فروى عنه شعبة وسفيان
الثوري وحماد بن زيد قبل اختلاطه ، وروى عنه جرير وخالد بن
عبد الله وابن علية بعد اختلاطه ، وروى عنه حماد بن سلمة قبل
الاختلاط وبعده.
) 51 ) وانظر لهذا النوع : "الاغتباط بمعرفة من روي بالاختلاط" لسبط ابن
العجمي ، وكتاب "الكواكب النيرات في معرفة من اختلط من الرواة" لابن
598 -تحقيق : د. عتر) . -555/ الكيال وشرح العلل للإمام ابن رجب( 2
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-31 of 38-
[ب]- معرفة حال الراوي مع شيخه ؛ هل هو مضعف في شيخه
أم لا ؟ فإن كان مضعفًا فالسند ضعيف كرواية سفيان بن حسين
.( الواسطي عن الزهري ( 52
[ت]- معرفة حال الراوي في أهل بلد ما هل هو مضعف فيهم
( أم لا؟ ( 53
فإذا كان مضعفًا فيهم وروى عنهم فالسند ضعيف وذلك كرواية
.( إسماعيل بن عياش عن الحجازيين فإا ضعيفة ( 54
[ث]- معرفة حال الراوي في أهل بلد ما إذا رووا عنه ؛ هل هم
( ضعفاء فيه أم لا؟( 55
فإن كانوا ضعفاء فيه ورووا عنه فالسند ضعيف . وذلك كرواية
الشاميين عن زهير بن محمد الخراساني فإا ضعيفة.
) 52 ) وانظر لهذا النوع: [الثقات الذين ضعفوا في بعض شيوخهم] لشيخنا :
الدكتور صالح الرفاعي ، وشرح علل الترمذي للإمام ابن
. (672-621/ رجب( 2
) 53 . (614-609/ ) انظر لهذا النوع: شرح العلل للإمام ابن رجب( 2
) 54 ) إسماعيل بن عياش مضعف في غير أهل بلده كالحجازيين والمصريين
والعراقيين.
) 55 . (620-614/ )انظر لهذا النوع: شرح العلل للإمام ابن رجب( 2
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-32 of 38-
-5 معرفة اتصال السند من انقطاعه وفيه سبعة أمور :
الأول: إن كا ن رجال السند ثقات ، وصرحوا بالسماع ، أو بما
.( يقتضيه فهو متصل( 56
الثاني: إن كان السند بالعنعنة أو نحوها ؛ فينظر : هل الراوي
عاصر شيخه أم لا؟
فإن كان لم يعاصره فالسند منقطع .
الثالث: إن كان الراوي عاصر شيخه ؛ فينظر : هل لقيه أم لم
يلقه أم لا يعرف ذلك ؟
فإن لم يلقه فالسند منقطع .
وإن لم يعرف فالأصل في الراويين المتعاصرين اللقيا والسماع ما لم
توجد قرينة على عدم السماع كنص إمام معتبر ، أو عدم إمكان
اللقِ  ي لصغر سن راو لا يمكنه التحمل فيه ، أو اختلاف بلد مع
التباعد وعدم الرحلة.
الرابع: إن كان الراوي لقي شيخه ؛ في نظر : هل سمع منه أم لم
يسمع منه أم لا يعرف ذلك ؟
) 56 ) هذا هو الأصل ما لم يتبين خلافه ، وذلك بتتبع طرق الحديث كما سيأتي
-إن شاء الله تعالى- في الخطوة الثانية.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-33 of 38-
فإن لم يسمع منه فالسند منقطع .
وإن لم يعرف فالأصل في اللقيا السماع ما لم توجد قرينة على
عدم السماع.
الخامس: إن كان الراوي سمع من شيخه ؛ فينظر : هل هو مدلس
أم لا ؟
فإن كان غير مدلس فالسند متصل.
السادس: إن كان الراوي مدلسًا وروى بالعنعنة أو نحوها عن
شيخ سمع منه أو في حكم من سمع منه :
فإن كان نادر التدليس كأبي قلابة عبد الله بن زيد الجرمي أو غير
مكثر منه كقتادة والأعمش وأبي إسحاق السبيعي حكم على السند
بالاتصال ما لم يتبين خلافه.
وإن كان من المكثرين من التدليس كابن جريج في غير عطاء ،
وكبقية بن الوليد توقف في اتصال السند وحكم بضعفه حتى يت بين
حال السند من الطرق الأخرى.
السابع: إن كان الراوي عاصر شيخه وأمكن اللقاء والسماع ولم
يعرف له منه سماع ولكنه مشهور بالإرسال فيحكم على السند
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-34 of 38-
بالانقطاع ،فإن كان غير مشهور بالإرسال فالسند متصل على
الصحيح ما لم تأت قرينة تبين سماعه من عدمه .
نتيجة الخطوة الأولى:
إذا سلم السند من جميع العلل الظاهرة ، وثبتت عدالة الرواة
وضبطهم ، وصح سماع بعضهم من بعض صحح السند ظاهرًا.
وإذا وجدت علة من تلك العلل الظاهرة فالسند يرد ولا يقبل .
فإن كان الضعف الذي في السند قريبًا محتم ً لا صلح للمتابعات
والشواهد .
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-35 of 38-
الخطوة الثانية:
-1 تطبق الخطوة الأولى على إسناد الحديث الذي يراد الحكم
عليه بِدِقَّةٍ.
-2 تجمع طرق الحديث الواحد من مظانها .
أو ً لا: عن الصحا  بي نفسه ؛ فتعر  ف المتابعة ،والمخالفة ، ويعرف
الشذو ُذ ، وتعر  ف العلَُّة.
ثانيًا: عن الصحابة الذين رووا الحدي ث نفسه –إن وجدوا أو
أحدهم- وهي الشواهد ، ويْلحق بذلك المراسيل ، والمعضلات ،
والموقوفات والمقطوعات التي لها حكم الرفع .
ولصلاحية الحديث للشهادة شروط ؛ أ  ه  مها : أن لا يكون شديد
الضعف ، وأن لا يكون شاذًا ولا منكرًا .
وت َ طب  ق الخطوة الأولى على جميع أساني د المتابعات والشواهد
والمخالفات .
. ( تنبيه: للتخريج طرق تعرف تفاصيلها من مظانها( 57
) 57 ) ومن مظانها : كتاب التخريج للدكتور بكر عبد الصمد عابد ، والتخريج
ودراسة الأسانيد لمحمود الطحان، وكتاب التأصيل للدكتور بكر أبو زيد.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-36 of 38-
-3 جمع أقوال أئمة الحديث والعل ل( 58 ) كالإمام أحمد ، وابن
المديني ، وابن معين ، وأبي حاتم ، وأبي زرعة ، وأبي داود ،
والبخاري ، والترمذي ، والنسائي ، والدارقطني ، والخطيب
البغدادي ، وشيخ الإسلام ابن تيمية ، وابن القيم ، وابن رجب ،
والحافظ العراقي ، وابن حجر ، وابن الملقِّن ، وأحمد شاكر ،
والألباني وغيرهم في الطرق التي تجمعها حتى يتيسر لك فهم طريقة
الأئمة في النقد ، وكيفية الحكم على الأسانيد ، وحتى تستفيد من
أقوالهم فيما أشكل ع ليك ، وحتى تعرف مقدار ضعفك أمام هؤلاء
الأئمة الجهابذة .
-4 هذا إجمال الخطوة الثانية وتحتاج إلى تفصيل وتحرير ، ولعل
ذلك يكون في وقت قريب -إن شاء الله تعالى- .
) 58 ) من تلك الكتب : كتب العلل : ككتاب العلل لابن المديني ، والعلل
ومعرفة الرجال للإمام أحمد ، والعلل لابن أبي حاتم ، والعلل للدارقطني .
ويلحق ا كتب الرجال فقد اشتملت على نقد الأئمة لمرويات كثيرة جدًا.
وكتب التخريج مثل: (نصب الراية) للزيلعي ، (التلخيص الحبير) لابن
حجر ، (البدر المنير) لابن الملقن ، تخريج المسند للشيخ أحمد شاكر ،
(إرواء الغليل) للشيخ الألباني .
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
-37 of 38-
-5 اعلم أن الحكم على الحديث من أصعب الأمور وأشقِّها ،
ولا يستطيعه إلا كبار المحدثين ، فتأنَّ في ا لحكم ولا تتسر  ع ، واجعل
ما كتبته لك للتدريب والتم رس فقط حتى تتقن علم الحديث .
وأكثر القراءة في كتب مصطلح الحديث ، وعلله ، وتراجم رواته
، وتراجم الأئمة وفقني الله وإياك لِ  ما يحبه ويرضاه .
والله أعلم وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه
أجمعين .
كتبه :
أبو زيد وأبو عمر أسامة بن عطايا العتيبي

Tidak ada komentar:

Posting Komentar